02 Jul 2011

Upacara Tebus Kembar Mayang

Diawali dari Tantingan, yaitu Orang tua Calon Pengantin Wanita menanyakan kepada putri nya mengenai kemantapan nya untuk melangsungkan pernikahan pada esok hari nya.


CPW memantapkan diri dengan meminta syarat  kepada orangtua nya untuk mencarikan kembar mayang. Orang tua menyanggupi dan mengutus Ki Saroyo Jati yaitu orang yang bertugas mencarikan kembar mayang tsb.


Ki Saroyo Jati menyanggupi dan membawa bekal Sada’ Lawe (sirih yang di linting benang putih) Tilam Lambus / Kloso Bongko yang di anyam dengan Suket Kolojono untuk menebus kembar mayang.


Disaat pencarian, Ki Saroyo Jati bertemu dengan Ki Warsito Jati yaitu petugas yang menunggu kembar mayang dan mengartikan makna dari kembar mayang tersebut mulai dari akar , batang,dahan, daun, bunga,dan buah.


Setelah di tebus dengan syarat diatas, Ki Saroyo Jati memboyong kembar mayang di Bantu oleh petugas, putra dan putri yang masih lajang berjumlah 5 orang , yaitu 2 orang lelaki muda lajang  untuk membawa kembar mayang, 2 perempuan muda lajang membawa manuk manukan, dan 1 orang perempuan membawa Catur Wedha serta di iringi lagu Ilir Ilir.

Pada waktu upacara Panggih esok hari, kembar mayang di bawa keluar dan di buang ke perempatan jalan di dekat rumah atau di dekat tempat berlangsung upacara. Hal ini di maksudkan agar semua makhluk jahat tidak mengganggu jalan nya upacara. Sedang kan sepasang kembar mayang yang baru yaitu yang di berikan oleh  Pengantin Pria di taruh di sisi kiri dan kana pelaminan sebagai hiasan. Perlu di ketahui bahwa penggunaan kembar mayang hanya untuk pasangan pengantin yang sebelumnya belum pernah menikah.

Sumber : Bapak Sudarman, dan beberapa literatur buku


Comments

  1. Upacara tebus kembar mayang adalah salah satu produk budaya. Sampai saat ini upacara tersebut masih berlangsung di pedesaan dan dan dilakukan oleh masyarakat pesisiran, sebagai salah satu pranata sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *