Sebuah warisan leluhur sewajarnya di lestarikan oleh para generasi di bawahnya, sebuah peninggalan yang mampu memperkuat identitas setiap individu.

Upacara Tingkeban (Nujuh Bulanan)

24. Sep, 2010

Upacara Tingkeban adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa, upacara ini disebut juga mitoni berasal dari kata pitu yang arti nya tujuh, upacara ini dilaksanakan pada usia kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama kali.Upacara ini bermakna bahwa pendidikan bukan saja setelah dewasa akan tetapi semenjak benih tertanam di dalam rahim ibu. Dalam upacara ini sang ibu yang sedang hamil di mandikan dengan air kembang setaman dan di sertai doa yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan YME agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehingga bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat.

Tata Cara pelaksanaan Upacara Tingkeban :
Siraman yang di lakukan oleh para sesepuh sebanyak 7 orang termasuk ayah dan ibu wanita hamil serta suami dari calon ibu. Siraman ini bermakna memohon doa restu agar proses persalinan lancar dan anak yang akan dilahirkan selamat dan sehat jasmani dan rohani. Sebaiknya yang memandikan adalah orang tua yang sudah mempunyai cucu.


Setelah siraman selesai, dilanjutkan dengan upacara memasukan telur ayam dan cengkir gading. Calon ayah memasukan telur ayam mentah ke dalam sarung/kain yang di kenakan oleh calon ibu melalui perut sampai pecah kemudian menyusul kedua cengkir gading di teroboskan dari atas ke dalam kain yang di pakai calon ibu sambil di terima di bawah oleh calon nenek dan kelapa gading tersebut di gendong oleh calon nenek dan di letak kan sementara di kamar. Hal ini merupakan symbol harapan semoga bayi akan lahir dengan mudah tanpa ada halangan.

Upacara Ganti Pakaian
Calon Ibu mengenakan kain putih sebagai dasar pakaian pertama, kain tersebut melambangkan bahwa bayi yang akan di lahirkan adalah suci dan mendapat berkah dari Tuhan YME. Calon Ibu berganti baju 6 kali dengan di iringi pertanyaan “ sudah pantas belum?”, dan di jawab oleh ibu ibu yang hadir “ belum pantas” sampai yang terakhir ke tujuh kali di jawab “ pantas”. Sebagai informasi, kain yang di pakai pada upacara berganti busana memiliki beberapa pilihan motif yang semua nya dapat dimaknai secara baik :

Gambar untuk motif Wahyu Temurun:

Wahyu Temurun:

Maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang selalu mendekatkan diri pada Allah SWT dan selalu mendapat perlindungan Nya.

Gambar untuk motif Sido Asih:

Sido Asih :
Maknanya agar bayi yang akan lahir akan selalu mendapatkan cinta dan kasih oleh sesama dan memiliki sifat belas kasih.

Gambar untuk motif Sido Mukti:

Sido Mukti:
Maknanya agar bayi yang akan lahir memiliki sifat berwibawa dan di segani oleh sekelilingnya

Gambar untuk motif Truntum:

Truntum :
Maknanya agar keluhuran budi kedua orang tua menurun pada sang bayi

Gambar untuk motif Sido Luhur:

Sido Luhur :
Maknanya agar bayi yang akan lahir akan memiliki sifat berbudi pekerti luhur dan sopan santun

Gambar untuk motif Semen Romo:

Semen Romo :
Maknanya agar bayi yang dilahirkan memiliki rasa cinta kasih kepada sesama layaknya cinta kasih Rama dan Sinta kepada rakyatnya.

Gambar untuk motif Sido Dadi:

Sido Dadi:
Maknanya agar bayi yang di lahirkan kelak akan selalu sukses dalam hidupnya

Gambar untuk motif Babon Anggrem:

Babon Anggrem:
Maknanya berisi harapan agar calon ibu dapat melahirkan secara normal dan lancar.

Gambar untuk motif Sido Derajat :

Sido Derajat :
Maknanya agar bayi yang dilahirkan mendapat derajat yang baik dalam hidupnya.

Setelah selesai mengenakan kain dan kebaya sebanyak 7 kali, dilaksanakan pemutusan benang lawe atau janur yang di lingkarkan di perut calon ibu, di lakukan oleh calon ayah dengan maksud agar bayi yang di kandung akan lahir dengan mudah.

Upacara Angrem
Setelah upacara ganti busana Calon ibu duduk di atas tumpukan baju dan kain yang tadi habis di gunakan. Hal ini memiliki symbol bahwa calon ibu akan selalu menjaga kehamilan dan anak yang di kandungnya dengan hati hati dan penuh kasih sayang. Calon Ayah menyuapi calon Ibu dengan nasi tumpeng dan bubur merah putih sebagai symbol kasih sayang seorang suami dan calon ayah.



Upacara Mecah Kelapa

Kelapa gading yang tadi di bawa ke kamar, kembali di gendong oleh calon nenek untuk di bawa keluar dan di letak kan dalam posisi terbalik (gambar tidak terlihat) untuk di pecah, Kelapa gading nya berjumlah 2 dan masing masing di gambari tokoh Wayang Kamajaya dan Kamaratih. Calon ayah memilih salah satu dari kedua kelapa tersebut.

Apabila calon ayah memilih Kamajaya maka bayi akan lahir Laki laki, sedangkan jika memilih Kamaratih akan lahir perempuan ( hal ini hanya pengharapan saja, belum merupakan suatu kesungguhan)


Dodol Rujak
Pada upacara ini, calon ibu membuat rujak di dampingi oleh calon ayah, para tamu yang hadir membeli nya dengan menggunakan kereweng sebagai mata uang. Makna dari upacara ini agar kelak anak yang di lahirkan mendapat banyak rejeki dan dapat menghidupi keluarga nya.

*Berbagai Sumber

One Response to “Upacara Tingkeban (Nujuh Bulanan)”
  1. jonsudiyono 16. Feb, 2011

    Saya senang membaca artikel dan dilengkapi dengan foto-foto acara tradisi jawa nuju bulan atau mitoni. Semua rangkaian acara saya suka dan bisa dimengerti makna atau nilai-nilai filosofi yang terkandung didalamnya, kecuali acara calon sang ayah membelah cengkir sepertinya saya koq gak sreg bahkan nyaris gak tega. Pertanyaan : kenapa calon ayah harus membelah salah satu cengkir dengan goloknya, padahal cengkir tadi digendong oleh calon nenek sebagai lambang cucunya. pemahaman saya sepertinya calon ayah koq membelah atau membacok anaknya sendiri… ?


Tinggalkan Komentar